Showing posts with label nikah campur. Show all posts
Showing posts with label nikah campur. Show all posts

Thursday, June 20, 2019

Cara Mencatatkan Pernikahan Luar Negeri di Indonesia

Dokumen Pelaporan Pernikahan saya dari kantor Catatan Sipil Wonogiri/Destrianita (dok.pribadi)


Setelah dua tahun lebih menikah di Swiss dan baru sempat pada lebaran 2019 ini pulang ke Indonesia, pernikahan saya akhirnya berhasil saya laporkan di Kantor Catatan Sipil Indonesia. Tepatnya di Kabupaten Wonogiri, tempat kelahiran dan tempat tinggal saya saat masih bergabung di Kartu Keluarga orang tua saya.

Prosesnya pun tidak rumit seperti yang saya bayangkan. Asalkan berkas lengkap, surat bisa langsung diproses hari itu juga. Pada case saya, karena saya melaporkan setelah libur lebaran, Surat Laporan Pernikahan saya ambil satu hari setelahnya. 

Permasalahan dalam melaporkan pernikahan menurut saya adalah tidak adanya pedoman baku untuk seluruh Kantor Catatan Sipil di Indonesia, sehingga kadang membingungkan kalau tidak menjalaninya sendiri. Hal ini saya temukan di Komunitas Kawin Campur di Facebook. Di sana, banyak teman-teman yang sharing, bahwa dokumen yang harus diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, yakni meliputi Akta Nikah dan Akta Kelahiran Suami. Adapun pada saat pelaporan pernikahan kemarin, hanya Akta Nikah saja yang saya terjemahkan. Sedangkan mereka sama sekali tidak mempermasalahkan akta kelahiran suami yang masih berbahasa asing.

Nah, berikut saya share bagaimana cara melaporkan pernikahan yang telah dilangsungkan di luar negeri di Indonesia berdasarkan pengalaman saya sendiri. Beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan antara lain:

1. Fotokopi Akta Nikah dari Kantor Sipil tempat dilaksanakannya pernikahan (Saya dari Kantor Catatan Sipil di Frauenfeld, Swiss)

2. Fotokopi terjemahan Akta Nikah (nomor 1) ke dalam bahasa Indonesia oleh penerjemah tersumpah. Dalam hal ini, akta nikah saya terdapat lima bahasa yakni Jerman, Prancis, Italia, Reto Romanisch dan Inggris. Sehingga saya cukup menggunakan jasa penerjemah tersumpah yang menerjemahkan bahasa inggris - indonesia. (mail me for detail).

3. Fotokopi Surat Keterangan Nikah yang diterbitkan oleh KBRI Swiss di Bern.

4. Fotokopi Akta Kelahiran Suami dan Istri (beberapa Capil minta Akta Kelahiran pasangan dari pihak WNA juga diterjemahkan. Tapi saya tidak, dan tidak masalah saat kemarin melaporkan pernikahan kami).

5. Fotokopi Paspor suami dan istri.

6. Fotokopi KK dan KTP pihak WNI

7. Pas foto suami istri berdampingan dengan background merah ukuran 4x6 sebanyak 4 lembar.

Berkas tersebut dikumpulkan menjadi satu ke dalam map. Jangan lupa bawa dokumen yang otentik untuk jaga-jaga bila petugas capil menanyakan apakah kopian tersebut berasal dari sumber yang asli.

Setelah diperiksa, saya diminta untuk mengisi formulir pelaporan pernikahan luar negeri. 

Sebagai tambahan, karena kami telah memiliki putri, maka saat pengisian formulit tersebut nama anak, tanggal lahir dan dasar pencatatan (Akta Kelahiran Anak di Swiss) juga harus saya isi. Hal ini berguna untuk nantinya sebagai dasar pembuatan Kartu Keluarga (KK) saya di Indonesia.

Usai selesai, dokumen dan formulir tersebut dikumpulkan oleh petugas dalam satu map. Saya dijanjikan untuk kembali satu hari berikutnya untuk pengambilan Laporan Pernikahan tersebut. 

Dan voalaaaa, dokumen pun sudah jadi. Bentuknya hanya satu lembar kertas HVS berisi keterangan dan foto saya dan suami saya. Saya juga diberi satu lembar surat pergantian status dari belum kawin menjadi kawin yang harus dibawa ke kecamatan untuk dasar pembuatan KK. Mudah kan ? 
Selamat mencoba 😇😇

Monday, January 22, 2018

Sharing Pengalaman: Rasanya Punya Mertua Bule



Hari ini saya lagi pengen banget cerita soal pengalaman saya setelah empat bulan lebih menginjakkan kaki saya di tanah Swiss alias Switzerland. 

Yang mau saya bahas kali ini adalah tentang papa mertua saya, Bernhard Ewald Frick, alias Papi Frick (begitu saya memanggilnya). Gimana sih rasanya punya mertua bule? Enak enggak? Bingung enggak ngobrolnya? Baik enggak? Satu satu bakal saya bahas gimana sosok beliau di mata saya, dari gambaran ini bisa tahu lah, saya ini termasuk menantu beruntung atau tidak.

Saya jujur, pertama kali bertemu secara langsung dengan Papi, adalah saat pertama kali beliau mengantarkan anaknya Jerome Frick alias suami saya sendiri ke Bandara Zurich. Saat itu 29 Agustus 2017, usai saya dihampiri Jey, papi ikut menghampiri saya, dan enggak tahu kenapa padahal baru ketemu tapi dia udah anggap saya kaya anak sendiri. Saya dipeluk, ditepuk punggungnya, dan dia bilang,”Willkommen Tita,” sambil senyum. Dia bantu saya bawa semua koper ke mobil, dan menyetir di depan sendiri. 

Sebelumnya, Jey udah mengenalkan saya dengan papi melalui video call. Saya pun juga dikirimi Jey beberapa foto papi saat sedang bersama kakak-kakaknya. So, sebelumnya ada perasaan takut juga, ini saya belum pernah ketemu, kok tahu-tahu mau dinikahi anaknya, gimana entar kelanjutan kehidupan saya di Swiss, jangan-jangan dia galak lagi? Begitu perasaan saya saat itu.


Pertama kali dijemput dan bertemu Paps Frick, 29 Agustus 2017

Namun jika saya menilik ke belakang, perjalanan pernikahan saya dan Jerome tak pernah terlepas dari sosok beliau. Justru papi lah yang membantu pengumpulan dokumen pernikahan saya dan Jey, karena saat itu ada beberapa dokumen saya yang sudah sampai di Swiss, namun Jey masih di Afrika untuk touring. Sehingga papi lah yang harus mencarikan, menscan, dan mengirim dokumen ke kantor catatan sipil di Frauenfeld. Nah berikut ini beberapa poin yang saya temukan dan menggambarkan gimana hubungan saya dengan papa mertua saya.


1. Kendala Bahasa 

Setelah beberapa hari tinggal di Swiss, saya mulai merasakan kendala yang harus saya hadapi ketika berkomunikasi dengan papi. Pasalnya, saya belum bisa menguasai Bahasa Jerman, dan Papi yang sudah agak lupa bagaimana berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Untuk mengurangi kendala ini, kalau di rumah saya biasa menggunakan google translate Inggris-Jerman dan sebaliknya ketika harus berkomunikasi dengan beliau. Adapun saat di luar, karena handphone tidak terkoneksi dengan internet, saya terpaksa harus berbicara menggunakan kode isyarat dengan menyelipkan beberapa kata dari Bahasa Jerman dan Inggris. 


Menemani Paps belanja ke Jerman

 

Bisa dibayangin kan gimana ribet dan kocaknya. Kadang nih kalau saya menemani beliau ke Jerman untuk mengambil paketan dari Onlineshopnya, kami suka sama-sama diam di mobil, karena bingung apa yang mau diomongin. Kadang untuk make sure kalau semuanya baik-baik saja, salah satu dari kami memulai pembicaraan. Seperti misalnya, andalan saya, “Ahh es kalt”,”Wow, Bodensee sehr schoon”,”Ich mag der luft so warm,” dan sebagainya, yang memancing beliau buat ngomong, begitu pula sebaliknya.

Tapi, per awal Januari kemarin, kendala saya sedikit teratasi. Oleh suami saya disekolahin ke Migros Klubschule buat belajar bahasa Jerman. So, biarpun masih terbata-bata, sekarang saya mulai membiasakan diri untuk lebih percaya diri ngobrol pakai bahasa Jerman biarpun kadang masih salah-salah juga grammarnya.


2. Paps itu Tegas Tapi Penyayang

Ya begitulah adanya. Papi itu kalau bicara dengan kliennya melalui sambungan telepon terdengar tegas. Beliau juga punya kepribadian unik yang pernah bikin saya geleng-geleng. Di usianya yang udah menginjak 74 tahun, saya tak melihat tanda-tanda jiwa menua darinya. Dia masih gagah, lincah, gesit, sigap dalam menyetir mobilnya.

Jika kami bertiga (dengan Jey) mau pergi ke manapun, dia yang selalu duduk di bangku setir. Dengan kecepatan di atas 80 km per jam, beliau cukup membuat deg-degan saya. Pernah suatu ketika, saat sedang reting, beliau agak berhenti mendadak di tengah jalan dan hal itu membuat pengendara mobil lain mengacungkan jari tengahnya. Enggak mau kalah, papi yang merasa saat itu benar telah melakukan reting, membalas dengan mengacungkan jari tengahnya ke orang itu sambil tertawa. 

Contoh ketegasannya lagi, saat saya menemani beliau ke Penny Markt, di kota Singen, Jerman. Ia melihat ada sebuah sepeda yang diparkir di depan tempat menyimpan trolly belanja. Tentunya ini akan menyulitkan pelanggan untuk mengambil atau akan mengembalikan trolly ke tempatnya. Gerah melihat hal ini, papi langsung mengangkap sepeda berukuran besar itu ke atas meja yang berada di samping trolly. Padahal meja tersebut sudah ditumpuk dua tingkat sehingga cukup tinggi.

"Salah sendiri naruh sembarangan. Biarin aja sekalian susah ngambilnya,” begitu kata beliau (kurang lebih kalau ditranslate ke bahasa. Hahaha saya agak malu juga sih karena banyak orang yang hanya melongo melihat tingkah mertua saya.


Paps pertama kali makan Nagasari buatanku. Beliau senang akhirnya bisa memanfaatkan daun pisang dari kebunnya sendiri, karena awalnya belum pernah tau bagaimana caranya masak dengan daun ini.



Kenapa saya menyebut mertua penyayang? Banyak sekali sebenarnya kejadian-kejadian menyangkut hal ini. Tapi yang paling saya ingat adalah saat saya punya sakit punggung gara-gara enggak betah cuaca dingin. Dari yang namanya diolesin balsem, dikerokin sama suami enggak sembuh-sembuh. 

Pernah suatu ketika karena saking sakitnya saya enggak ikut join makan malam. Begitu esok paginya, saat bertemu, mertua pasti tanya. “Tita, wie geht es dir?” dan saya selalu jawab Mir geht es gut, aber (aku baik-baik saja, tapi...) (cerita kalau punggung sakit). 

Singkat cerita setelah beliau bertanya hal itu, siangnya pintu kamarku diketok Papi. Saya mikir kok tumben banget, biasanya kalau papi butuh bantuan suka panggil dari bawah. Pas buka pintu terkejut karena Papi bawain aku teh herbal yang dibuat dari bunga (enggak tahu bahasa Indonesianya) Schafgarberblüten. Padahal, untuk mendapatkan teh itu dia harus pergi ke Zurich, perjalanan sekitar 3 jam PP dari dan ke Steckborn, dan harganya pun (kalau dirupiahin) cukup tinggi.

Papi tanya, “Wie geht es dir Tita? Es ist für dich," katanya sambil memberikan mug berisi teh herbal. Ia juga menunjukkan kertas kecil bertuliskan “drink as hot as you can”. 

Kata beliau, takut saya enggak ngerti, makanya translate dulu pakai komputer di google translate dari Jerman ke Inggris, lalu ia print di kertas HVS dan digunting kecil. Jujur terharu ya, bokap mertua yang baru saya kenal baru dua bulan kok baik banget. Abis itu saya diminta istirahat dan didoain cepet sembuh. 

Kejadian ini aku ceritain ke suamiku Jey lewat whats app. Saya kirimkan foto mug dan print an kertas itu. Jawabnya dia,”Because now you are also his daughter.” Yah, tambah meweklah dengan kebaikan dua bule bapak-anak ini. Dan ternyata bokap emang paling seneng kalau berkreasi dengan aneka herbal untuk penyembuhan secara alami dibandingan dengan menggunakan obat.


Teh buatan Paps dan tulisan berbahasa Inggris yang ia buat untukku ini sukses bikin terharu. Love you sooo much meine Vater :)



Lalu kalau saya tidak gabung untuk makan malam, gara-gara lagi ngambek sama Jey, ternyata Paps suka tanya ke Jey, Warum kann nicht deine Frau kommen? Suamiku mana enggak bisa bohong. Kalau saya dan dia lagi diem-dieman, Paps suka tanya ke Jey, masalahnya apa. Dan beliau kasih solusi. 

Baru paginya pas ketemu saya nanya lagi, Wie geht’s Tita? Alles Klar? Paps selalu berusaha biar gimana saya tetap nyaman di rumah. Hikss pengen nangis kalo ngebayangin gimana susahnya Paps dulu berjuang sendiri besarin 5 anak setelah Moms meninggal. Fyi, mama mertuaku udah enggak ada sejak Jey umur 9 tahun. Jadi Jey tumbuh belasan tahun lalu tanpa mamanya. Alhamdulillah meskipun single parent, paps bisa mendidik anak-anaknya menjadi orang baik.



3. He is a great chef

Saya mendengar dari Jey kalau awal papa dan mamanya bertemu itu saat keduanya bekerja di restoran di Swiss. Dari situlah saya menduga bahwa Paps adalah chef yang keren. Hal itu dibuktikan saat ia menawarkan ingin memasak menu makan malam, beef dari hackfleish atau daging giling, pasta dan salad. Tangannya yang gercep motong bahan makanan bikin saya melongoh. 

Yang paling saya suka, beliau concern banget sama yang namanya kebersihan dan kesehatan. Karena itu, abis masak, motong bahan apapun, paps selalu mastiin langsung bersihin itu kulit sayuran, tepung-tepung jatuh, minyak nyiprat, dan segala macem pengotor lainnya sehingga dapur bersih lagi. Tentu ini secara langsung juga ngajarin saya buat bikin rumah tetap bersih. Karena itu, selama masih nganggur ini (only learn German language) hampir tiap pagi saya ngawalin buat ngepel rumah dan aneka kerjaan rumah lainnya.



4. Junjung tinggi toleransi
 
Oh ya, as you know, perbedaan keyakinan antara saya dan mertua bukan berarti bukan bikin kami musuhan. Alhamdulillah, mungkin udah jalannya, Tuhan kasih saya mertua yang toleran. Bisa bayangin lah gimana di sini saya bisa nemuin dengan gampangnya daging babi, wine, beer, hal-hal yang diharamkan dalam islam. Tapi papi menghargai saya. Beliau menyimpan babi di tempat terpisah, masak dan makan di tempat terpisah. Begitu juga saat minum wine, ada gelas khusus buatnya. 

Kalau saya kebetulan ikut ke market, beliau akan bilang,”Diese fleisch ist nicht fur dich (daging itu bukan buat kamu – karena daging babi), atau,” Möchtest du händchen oder rindfleisch? (apakah kamu mau daging ayam atau daging sapi?) pokoknya paps itu orangnya fleksibel dan apa adanya. Istilah gampangnya gini, gue respect lo, tapi lo juga respect gue ya. Ya buat saya agamamu itu agamamu, agamaku itu agamaku. Hmm kalau aja semua netizen ngerti model gini yaa, pasti ga banyak yang nyinyir di medsos, hahaha


Makan bersama merayakan Ultahku di restoran halal



Sebenarnya masih banyak banget hal-hal positif dan segala hal yang saya dapat dari mertua saya. Intinya, saya bener-bener merasa sebagai perempuan yang beruntung. Punya mertua seperti Paps Frick dan suami seperti Jerome. 

Saya bertemu dengan Paps begitu singkat, namun sesingkat itu juga beliau menerima saya sebagai “anak barunya”. Padahal kalau dipikir, banyak banget orang tua (bule) di luaran sana yang pengen anaknya enggak nikah muda, biar berpetualang dulu, dan sebagainya. Namun keluarga Frick begitu berbesar hati menerima saya, dan menyayangi saya layaknya keluarga sendiri. Saya benar-benar menantu yang beruntung punya mertua seperti Paps :).

Friday, November 17, 2017

Pernikahan di Swiss



Finally my wedding time is come!! Tanggal 17 Oktober 2017 menjadi hari terbahagia, paling bersejarah untuk saya dan suami saya Jerome Frick. Setelah melalui proses yang melelahkan dan panjang (but grateful) dari Februari hingga Agustus, akhirnya kami dipanggil oleh kantor catatan sipil di Frauenfeld, untuk melengkapi syarat-syarat pernikahan.

Pada 4 September 2017 lalu, Saya dan Jey mendatangi kantor Zivilstandsamt untuk mencocokkan dokumen pernikahan seperti yang telah kami kumpulkan sebelumnya. Sekaligus untuk menentukan tanggal pernikahan. Ternyata, kami masih harus membayar lagi biaya untuk mengurus keperluan. Jadi, buat yang emang udah serius mau nikah sama bule (especially Swiss), tanyain dulu pasangannya, siap enggak dengan biaya mahal? Karena for me, to be honest, biaya nikahku kalau dihitung2 mahal. Di Indonesia udah keluar kurang lebih 7 jutaan, di sini masih bayar ratusan CHF, belum lagi asuransi, surat keterangan domisili, dan lain-lain.

Well, di hari itu, kami diminta lagi untuk membayar persyaratan pernikahan, sebesar CHF 380 atau sekitar kurang lebih Rp 5.195.000. Dari bukti bayar yang kami terima, bukti bayar itu untuk membiayai (di dokumen ditulis bahasa Jerman, kurang lebih artinya seperti di tanda kurung) :
1. Entgegennahme Vorbereitungsverfahren CHF 125.00
(tanda terima prosedur persiapan pernikahan)

2. Trauung während den ordentlichen Trauzeiten CHF 75.00
(pernikahan di hari biasa)

3. Auszug aus dem Eheregister (CIEC) CHF 30.00
(kutipan dari daftar perkawinan)

4. Prüfung ausländischer Urkunden mit grösserem Aufwand CHF 150.00
(Pemeriksaan dokumen asing dengan usaha lebih besar) - (pakai intel kali ya?)
Untuk poin nomor 2, pemilihan hari pernikahan berpengaruh terhadap biaya. Untuk hari pernikahan yang bersamaan dengan hari libur atau hari besar, maka akan dikenakan biaya akan lebih besar.
Kami pun sepakat untuk memilih tanggal 17102017 sebagai hari pernikahan kami. Dan pihak sipil menyetujuinya. Selanjutnya kami diminta untuk menunjuk siapa nama saksi dalam pernikahan, tanggal lahir mereka, dan alamatnya.
Dalam tanda bukti yang kami terima dari Zivilstandsamt disepakati sebagai berikut:
Gerne bestätigen wir Ihnen den Trauungstermin:
Dienstag, 17. Oktober 2017 um 14.00 Uhr
in Frauenfeld TG, St. Gallerstrasse 4, Holdertor
-=-=-===============================================================
Pada 17 Oktober, kami sekeluarga berangkat ke lokasi yang dituju untuk menjalani ikrar pernikahan di kantor sipil, tepat jam 14.00 WIB (Swiss selalu tepat waktu, salut!). Di Frauenfeld itu, kami disahkan negara Swiss sebagai pasangan suami istri. Jujur, saya masih pusing dengan prosedur yang harus dijalani di Swiss ketika WNI menikah dengan orang dari sana. Beruntungnya, suami dan mertua saya merupakan orang yang gercep. Tepat di hari berikutnya kami langsung mengurus prosedur lanjutan, yakni terkait asuransi dan izin tinggal atau aufenthaltstitel.
Di Swiss, semua penduduk (bukan hanya warga negara Swiss), tapi semua orang yang tinggal di Swiss harus memiliki asuransi. Karena saya belum mendapatkan pekerjaan, maka asuransi saya masih ditanggung oleh suami saya. Adapun untuk kartu aufenthaltstitel, membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Nanti setelah mengisi dokumen, kita akan dipanggil oleh Kanton, untuk prosedur foto, sidik jari dan tanda tangan, untuk dibuatkan kartu tersebut. Dengan kartu ini, maka kita resmi menjadi penduduk Swiss (bukan warga negara ya), dan berhak untuk mendapatkan pekerjaan yang sama.
-=-===================================================================
prosedur pernikahan tak hanya sampai di situ. Sebagai warga negara Indonesia yang bermukim di negara asing, pastinya kita pengen dong negara tetap melindungi kita. Karena itu, setiap WNI yang menikah dengan orang asing dan tinggal di negara lain, wajib untuk melaporkan ke Kedutaan Besar Indonesia (Indonesian Embassy). Karena saya tinggal di Swiss, maka saya harus melaporkan pernikahan saya ke Indonesian Embassy di Bern. Caranya mudah. Saat ini saya juga sedang menikuti prosedurnya, kalian bisa klik link ini.
Print dulu dokumennya, kemudian isi sesuai keadaan yang sekarang, dan kirim ke alamat kedutaan besar yakni di
Embassy of Indonesia
PO BOX 112
3000 Bern 15


(selanjutnya, dokumen akan saya update setelah saya memperoleh balasan dari Kedutaan Besar di Bern ya).

Thursday, September 7, 2017

Hari Pertamaku di Steckborn, Swiss


Selfie di eichhölzli , spot terbaik melihat pemandangan Bodensee di Steckborn



Aku pertama kali menginjakkan kaki di Swiss pada Senin, 29 Agustus 2017, setelah pacarku Jerome Frick, dan paps Bernhard Ewald Frick menjemputku di Bandara International Zurich pagi harinya. Usai pesawat tiba pukul 08.00, atau terlambat satu jam dari perkiraan, aku harus melewati imigrasi untuk dapat mengambil koper bawaanku. Ada untungnya ketika kita terakhir mendatangi imigrasi, karena kita tidak perlu berdesak-desakan saat mengambil koper di tempat pengambilan barang dari bagasi.

Usai mendorong kelima tas ku dengan troli, aku berjalan keluar menuju tempat kedatangan, sambil celingukan mencari Jerome. Dan voalaaa, cowo ganteng berjaket abu datang menghampiriku sambil senyum n ketawa bahagia (kayaknya sih bahagia hahaha). He hugged me so tight so did I, it was beautiful moment ever. Aku seneng banget. Terlebih saat paps juga mendatangiku dan memelukku. Berasa ketemu sama bokap sendiri. Aku benar-benar bahagia. Kami langsung berjalan menuju mobil dan Jerome mendorong bawaanku untuk dimasukkan ke bagasi mobil.

Paps duduk di bagian depan. Sedangkan aku dan Jerome duduk di jok belakang. Bukannya enggak ngehargai paps yaa, katanya dia kangen sama gue, pengen duduk di belakang makanya. Hahaha yaudah, aku mah ngikut aja. Perjalanan pun berlangsung menyenangkan. Kami bercerita, paps bertanya kepadaku dalam bahasa Swiss-Jerman, dan Jerome menerjemahkannya ke bahasa Inggris. Ketika aku ngasih feedback dalam bahasa Inggris ala kadarnya, Jerome kembali nerjemahin kata-kataku ke bahasa Swiss-Jerman ke Paps. Aku begitu takjub menyaksikan betapa indahnya pemandangan Spenjang Zurich menuju Steckborn. Gilaaaaaa indah bangetttt. Ini luas banget dan enggak banyak bangunan tinggi kaya di Jakarta. Tanah kosong pun ditanami sama tumbuhan hijau agar sapi bisa makan rumput di situ. Sedangkan lahan lainnya ditanami pohon apel dan pear serta anggur. Indah banget. Gue katrok... melongo sepanjang jalan tengok kanan kiri, semuanya tertata rapi.



Selfie pertama dengan Paps n Jerome di eichhölzli



 Kami sejenak berhenti di eichhölzli untuk melihat view Steckborn dari atas. Di sana kami juga pertama kali melakukan wefie sebelum akhirnya perjalanan kembali dilanjutkan ke rumah. 

 
Sesampainya di rumah, aku meletakkan barang-barang bawaanku ke lemari. Jerome juga menyiapkan kamar khusus untukku beserta meja kerja dan lemari. Sayangnya paps tidak bisa lama-lama di rumah, karena harus berangkat ke Jerman untuk mengambil barang untuk keperluan online shopnya di kantor pos sana. Oh ya, Jerome juga punya anjing lucu banget, warnanya putih, jenisnya maltese. Namanya Violetta.

Akhirnya di hari pertamaku di Jerman hanya aku habiskan bersama Jerome, jalan-jalan di sekitaran Steckborn, ke danau Bodensee, ke toko jus apel milik temannya, Beni, serta ziarah ke makam mamanya Jerome, Zitta Frick. Kata Jerome, aku datang di Swiss di waktu yang tepat, yakni pas musim summer, di mana bunga-bunga lagi mekar dan suasana juga enggak begitu dingin. Karena saat nanti musim gugur dimulai, cuaca bakal dingin banget. Apalagi saat musim salju datang di bulan Desember, suhu bisa mencapai minus nol derajad.


Jalan-jalan keliling Steckborn





Di Swiss itu banyak banget jenis-jenis bunga. Semuanya indaaaah banget. Tapi aku herannya, kok beda banget ya sama di Indonesia. Di sini, setiap bunga itu mekar bebas di depan rumah tanpa dipagari. Tapi enggak ada tuh tangan usil yang sampai tega metik bunga-bunga itu. Sense mereka akan keindahan dan estetika tinggi kali ya, makanya mereka enggak mau nakal ambil-ambil bunga sembarangan kalau dipandang aja udah bikin ati seneng. Beda lah ya sama di Indonesia. Apalagi kalau ada persitiwa penting, biasanya kan bunga-bunga cantik ditaruh tuh di sekeliling bundaran HI, eh abis acara bubar, rusak tuh bunga-bunga. Mungkin kita harus sama-sama belajar dari orang Swiss kali ya tentang pentingnya menjaga tanaman terlebih bunga. Ya paling tidak nih ya, setelah orang Jakarta sibuk dan stress dengan segala aktivitasnya di kantor, belum lagi pulang harus melawan kemacetan, tapi nyampai rumah masih bisa sedikit terobati dengan melihat bunga-bunga bermekaran. Mungkin hal ini bisa loh dicoba, nanam-nanam bunga di halaman rumah.


Bunga Daffodil, penanda datangnya musim semi. Captured by me, copyright reserved.





Swiss rasa Jepang, berfoto di bawah pohon yang sedang bersemi







Bunga Tulip tumbuh subur hampir di setiap pekarangan rumah


 

Oh ya, aku pernah mendengar istilah kantin kejujuran di Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK. Kata teman-teman wartawan yang pernah ngepos di sana, kantin itu tidak ada yang jaga, dan hal ini juga dilakukan untuk mengetes kejujuran orang-orang yang membelinya. Hal itu juga terjadi di Swiss. Salah satu contohnya adalah warung kecil milik keluarga Wieland. Beni Wieland adalah teman dekat Jerome Frick. Keluarganya memiliki beberapa cabang usaha, salah satunya adalah jus apel yang dikelola oleh ibunya Beni. Jus apel milik keluarga Beni itu langsung diolah dari hasil panen apel di kebun mereka. Setelah apel dipetik, dicuci, kemudian diambil sarinya dan dituang dalam galon kaca.

Air apel dalam galon kaca itulah yang kemudian dijual dalam sebuah warung kecil tak berpenghuni. Sebelum mengunjungi makam mama Zitta, untuk pertama kalinya aku mampir ke warung jus itu. Aku lihat Jerome ngambil satu botol kosong seukuran 1,5 liter kaya botol Coke, langsung menaruh botol itu di selang galon kaca. “You can also choose apples you like, i will pay it here,” ujar Jerome. Aku nanya balik,” Where is seller who keep this store? Where do you gonna pay your money?”





Jerome lantas ambil beberapa koin sejumlah 2 CHF lebih (sekitar Rp 29.000) dan menaruhnya ke dalam kotak celengan kecil. “Here,” ucapnya sambil masukin duit itu ke kotak. Dia juga ambil enam buah apel dan memasukkannya ke dalam tas. “Don’t worry, I paid it all,” kata Jerome lagi. Gila yaa, semurah hatinya itu keluarganya Beni kalau misal (memang) ada maling. Dan hal itu memang sering terjadi. Kata Jerome, sering anak-anak kecil mendatangi warung itu, mengambil jus tanpa membayarnya. Kan gila guysss... ya sekali lagi, kalau bisa ambil sisi positifnya, hal-hal kaya gini bisa ngajarin kita untuk melatih diri, tinggal pilih, mau jadi orang jujur atau tukang bohong kaya koruptor.

Hari pertamaku di Swiss juga diisi dengan mengunjungi danau Konstanz, atau juga bisa disebut dengan nama Bodensee. Cuaca yang cerah membuat orang-orang mendatangi danau untuk berenang atau sekedar duduk menikmati pemandangan. And you know what, air sekitar danau itu beningggg banget. Super duper bening. Karena apa? Orang-orang di sini sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan dan air. Buktinya? Mereka memberikan tong sampah besar di setiap spot yang banyak dikunjungi orang, yang terbagi menjadi tiga, yakni tong sampah untuk kaleng, untuk plastik, dan organik. Ya gitulah akhirnya, kalau orang sama-sama sadar pengen lingkungannya indah, mereka pasti juga enggak pengen berbuat hal-hal yang bikin wilayahnya kotor n keindahannya terganggu.


Satu lagi yang bikin aku melongohhhh abis di sini, saat aku melewati pancuran air di situ ada tulisan “trinkwasser” yang artinya air yang mancur itu bisa diminum. Whuatttt? Air keran di pinggir jalan bisa diminum? Iyess Bisa. Kata Jerome, air itu pure mengalir dari gunung yang tidak terkontaminasi kuman-kuman karena memang alam di Swiss yang masih asri. Gila dong yaaa guyss kalo di Indonesia, terlebih di Jakarta, air galon aja beli mahal. Kalau ambil dari sumur harus dimasak dulu. Tapi di Swiss enggak.

Aku aja nih ya, kan enggak terlalu suka equil water. Jadi kalau lagi dinner sama Jerome and paps, aku selalu ambil air minum dari wastafel, tanpa dimasak, langsung aja gitu diminum. Seger gila kaya air galonan. Sekali lagi, sistem. Setiap tempat, setiap negara punya sistem yang beda-beda dalam mengatur komunitas yang ada di dalamnya. Selama ini, aku masih enjoy dengan sistem yang ada di Swiss dalam hal konsumsi ya. Mereka memang memberlakukan biaya listrik dan air pegunungan yang mahal. Tapi hal itu worth it, sebanding dengan apa yang mereka lakukan untuk senantiasa menjaga dan selaras dengan alam. Terima kasih Swiss, belum seminggu di Sini kamu udah ngajarin aku banyak hal.



To be continued... :)


My Journey to be In Swiss


Cerita ini akan aku mulai dari awal perjalanan dari Jakarta ya. Hari itu, 28 Agustus 2017, aku telah siap dengan lima tas bawaanku, yakni koper biru besar, dua tas warna hitam berisi pakaian dan beberapa perlengkapan, satu ransel biru berisi dua buah laptop, dan satu tas jinjing perempuan untuk powerbank dan alat kosmetikku. “I am ready to leave Jakarta,” ucapku saat itu. 


All my bags are packed and i am ready to go. :)



Waktu menunjukkan pukul 11.00, saat itu salah satu teman dekatku, Sabrina, wartawan dari Republika konfirmasi kalau dia mau anter aku ke bandara Soekarno Hatta sepulang liputan. “Gpp sis tar ak anter. Ga enak pindahan dewean iku sis. Eh, kamu tak datengin jam brp di kosan?” kata dia.

Aku bilang, aku berangkat jam 14.00 WIB ke bandara. Tapi jujur aku merasa berat kalau dia ikut nganter, karena aku yakin, nanti kalau aku check in, bakalan nangis pisah sama dia. Sabrina dan aku kenal tak cukup lama, namun karena kami berdua sama-sama orang Jawa, dan kadang sering curhat, kami jadi dekat. Tapi dia tetap mau antar, karena kebetulan liputannya juga baru selesai. “Ini udh slese liputan. Lg makan nasi kotak. Hehe. Yowes tar abis ini ak ke sana,” tuturnya.

Sebelum jam 14.00, Sabrina udah sampai di kost aku. Dia menyempatkan diri untuk salat dhuhur di sana sebelum akhirnya kami berangkat menggunakan Go Car. Tiket pesawat sudah di tangan. Saat itu aku dijadwalkan naik pesawat Thai Airways dengan nomor penerbangan TG436 dengan rute Jakarta-Bangkok di Terminal 2E Gate D6 dengan waktu boarding 18.15 WIB. Aku duduk di seat nomor 46K.

Setelah pesawat transit di Bandara Svarnabhumi Bangkok selama tiga jam, perjalananku akan dilanjutkan dengan pesawat Thai Airways dengan nomor penerbangan TG970, dengan rute Bangkok-Zurich dan waktu boarding pukul 00.25 waktu Bangkok. Di pesawat itu, aku duduk di seat 51 A. 


I was ready to go to Swiss! Take me away Thai Airways :)


Menjelang waktu check in, aku dikejutkan dengan kedatangan salah satu temanku, Avit Hidayat. Dia adalah salah satu teman terbaikku ketika aku masih bekerja di Tempo. Sedih rasanya saat itu harus pisah, karena di saat-saat terakhir aku di Jakarta, Avitlah yang selalu memberiku dukungan ketika teman-teman lain menjauh tanpa alasan. Di saat orang lain dengan sok taunya menilaiku dan memperlakukanku layaknya orang yang tak pantas diajak berteman (seriously but I feel this), Avitlah yang membelaku dan menjadi pendengar yang baik. But i think this is not the story I shoulf tell... haha. So, saat itu aku bilang ke Avit, tetap semangat jadi wartawan, tetap semangat nulis, kejar cita-citanya, dan jangan lupa sama aku. Avit juga kasih wejangan, untuk selalu berkabar.


Teman-temanku, Avit Hidayat (wartawan Tempo) dan Sabrina (wartawan Republika)


Waktu terbang pun datang, aku benar-benar harus mengucapkan good bye untuk dua temanku, Sabrina dan Avit. Jelas sekali aku melihat Sabrina nangis. Hahaha padahal dia bilanh sebelumnya,” Enggaklah... ngapain juga nangis sis, paling tar kamu yang nangis,” ucapnya. Nyatanya, kebalik, dia yang sedih. Hahaha cup cup Sabrina, tar kita ketemu lagi...


***

Aku melangkahkan kakiku menuju pesawat. My future hubby, Jerome Frick pinter banget milihin seat buat aku yang ternyata ada di tengah dan tepat dibelakang seat merupakan sekat sehingga aku bisa melonggarkan seat ku di sana. Apalagi kursi yang berjajar untuk tiga orang (46 K, 46 L, dan 46 M) hanya diduduki dua orang, sehingga aku bisa meletakkan tasku di kursi tengah. Aku duduk bersama seorang nenek yang bertolak ke Osaka, Jepang dan transit di Bangkok juga. 

Pelayanan di Thai Airways begitu menyenangkan. Hahaha mungkin juga aku yang norak karena baru sekali pergi ke luar negeri. Enggak papa yah, aku share aja, bukan sebagai promo, tapi di Thai Airways saya benar-benar dimanjakan dengan menu makanannya yang Asia banget dan halal dengan cita rasa khas Thailand. Tiga jam di pesawat menuju Bangkok rasanya singkat. Aku sengaja tak memejamkan mataku karena aku ingin menghabiskan waktu tidurku di penerbangan berikutnya yang jauh lebih panjang. Di pesawat aku melihat film yang pernah aku lihat bersama Jerome sewaktu di Jakarta, aiiiihhh.... Beauty and The Beast sambil menghabiskan menu dinnerku. Bener-bener enjoyable di pesawat. Kadang aku juga ngobrol dengan nenek yang duduk di sebelahku tentang tujuan perjalananku, apa yang akan kami lakukan usai sampai di tempat tujuan, dan sebagainya. Sesekali pramugara pesawat mendatangi kami, menawarkan minuman, dessert, dan lain-lain. Pokoknya kelas ekonomi berasa kelas bisnis deh kalau naik pesawat berwarna ungu ini.

Oh ya, sekedar informasi (buat yang baru sekali ke luar negeri kaya aku), kalau hanya transit, kita tidak perlu cap visa di imigrasi. Jadi, saat beragkat dari Bandara Soetta, kita dapat cap sekali sebagai tanda kita dapat allowance keluar dari Indonesia. Sesampainya di Bangkok, atau Dubai, kita hanya perlu ke tempat transit untuk penerbangan selanjutnya tanpa harus cek imigrasi. Kalaupun ingin membeli makanan di Bandara tempat transit, kalian bisa membeli di area bandara tanpa perlu pemeriksaan imigrasi.

Saran lainnya ketika kalian mau travel ke luar negeri dengan harus transit, pilihlah jarak waktu dengan penerbangan berikutnya minimal 3 jam. Jangan pilih waktu mepet hanya satu jam. Ini dilakukan karena terkadang pesawat pertama yang kita tumpangi terkena delay, sehingga ditakutkan kita tidak punya cukup waktu untuk ke penerbangan selanjutnya. Hal ini dialami oleh nenek yang duduk di sebelah aku (lupa namanya), yang hanya punya waktu 30 menit untuk ke penerbangan selanjutnya, karena pesawat tiba di Bangkok terlambat 45 menit. Saya enggak tahu gimana nasib nenek itu, karena di tiket juga tertulis “Gate Closes 10 Minutes before Departure”. Dan di Bandara Svarnabhumi Bangkok itu, untuk menuju ke lokasi transit kita harus berjalan sekitar 700 meter (bandaranya luas banget), belum harus antre dan melewati pemeriksaan keselamatan penerbangan.

Pemeriksaan di Bandara Svarnabhumi juga benar-benar ketat. Memasuki transit, yang harus dipersiapkan adalah paspor dan tiket (selalu siapkan dua hal ini di saku tas paling depan). Paspor itu layaknya KTP luar negeri. Sehingga saat kalian bepergian ke luar negeri, cukup simpan KTP di dompet, karena yang diperlukan adalah paspor. Saat memasuki pemeriksaan, aku diminta untuk melepas jaket, ikat pinggang, layaknya pemeriksaan keamanan pada umumnya. Namun karena pemeriksaan yang ketat, aku juga disuruh membongkar tas ransel biruku yang berisi laptop beserta isinya, serta melepas sepatu bootku.

Ikuti saja aturannya, karena ini demi keamanan bersama. Untuk pemeriksaan ini, sebagai informasi jangan membawa benda cair entah berupa gel, air mineral dan bentuk cair lainnya dengan ukuran lebih dari 100 ml, kalau kalian tak mau kena masalah di bandara. Kalau kalian memang mau bawa benda-benda itu, kalian bisa memasukkannya ke koper bagasi, dijamin barang aman. Mengenai pengalaman ini, aku sempat melihat seorang ibu-ibu dari China menangis saat mengetahui sabun cuci mukanya yang mahal enggak bisa dibawa terbang karena ukurannya sekitar 150 ml. Bahkan saat ia bilang,” Can I use this first by go to bathroom and give it back to you?” petugas bilang,”NO”. Makanya, jangan bawa dirimu dalam masalah ya, enjoy the flight without problem.

Aku lupa di Gate mana aku transit untuk penerbangan ke Zurich. Tapi untuk setiap transit, sampai di bandara aku sarankan kalian untuk menuju ke petugas, di Gate mana kalian transit untuk penerbangan selanjutnya. Sehingga kalian tak perlu takut bakal ketinggalan pesawat. Di bandara sebenarnya juga tersedia wifi yang bisa diakses gratis oleh penumpang. 

Sayangnya di sana tidak cukup informasi mengenai hal ini. Di Svarnabhumi meski ada wifi gratis, namun tak ada flyer atau petunjuk yang menginformasikan password dan username untuk akses internet di Gate transitku. Apalagi saat itu menunjukkan 23.45 dan tak terlihat satupun petugas yang jaga sehingga akupun hanya bisa duduk mendengarkan musik sampai waktu terbangku ke Zurich tiba. 

Pukul 00.45, waktu boarding menuju Zurich tiba. Setelah penumpang bisnis diminta masuk terlebih dahulu menuju pesawat, giliran penumpang kelas ekonomi yang masuk, termasuk aku. Pesawat Thai Airways itu berbadan besar, aku enggak tahu jenisnya apa, tapi dalam setiap baris kelas ekonomi, ada 9 orang yang duduk yang terbagi dalam tiga baris dan dua sekat. Aku duduk bersama satu orang pria sepertinya berasal dari timur tengah dan satunya perempuan berasal dari China. Tak seperti penerbangan sebelumnya, aku tak akrab dengan keduanya. Sialnya, kursi yang aku duduki stucked, sehingga tak bisa dilonggarkan ke belakang. Tapi tak apa, karena perjalanan akan dilakukan sepanjang malam, aku akan terus mencoba untuk tidur selama 11 jam. Pegal juga sih pantat harus duduk.

Oh ya, ketika terbang, aku suka duduk di dekat jendela. Pertama, aku suka sensasi naik turun turbulensi pesawat, kedua, aku senang menyaksikan gumpalan awan alias cotton candy dan menjepretnya dengan ponselku. Tapi, enggak enaknya adalah ketika kebelet pipis di pesawat, dan harus izin di penumpang yang ada di sebelah kita. So, it is your choice.

Perjalanan selama 11 jam aku lewati dengan cara bangun tidur, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi, tanpa gosok gigi dan minum kopi. Benar-benar bosen, padahal udah diisi juga dengan nonton film dan main games di monitor yang ada di depanku. Tapi tetap aja, kalau enggak bisa ke mana-mana, pantat pegel juga. Aku ada saran buat teman-teman yang pergi ke LN untuk menghindari jetlag, buat aku sih berhasil, mungkin kalian bisa coba. Yaitu, jangan pakai jam tangan saat di pesawat. Kalau mau intip jam, cukup intip yang ada di handphone, karena jam di HP itu langsung menyesuaikan waktu di mana kita tinggal. Beda dengan jam di tangan yang harus di set ulang. Enggak tau juga sih apakah jam tangan mahal bisa langsung set waktu secara otomatis, enggak pernah beli jam mahal euy, pakai Casio aja udah bersyukur banget, hahaha.

Daaan... aku seneng banget saat aku liat jam udah pukul 05.00, saat intip jendela, terlihat gumpalan awan dan cahaya matahari terbit. Indah banget guysss langit Eropa. Cerah banget, indah banget saat lihat pegunungan Alpen dari pesawat. Bisa banget buat difoto buat koleksi di instagram. Aku juga tambah deg-degan menantikan kedatanganku di bandara. Bayangin mukanya Jerome saat jemput di bandara sama Paps Bernhard. Badan juga rasanya udah kaku banget pengen cepat-cepat turun dari pesawat dan menghirup udara segar di Swiss. 


Good Morning my Sunshine and Cotton Candy! :)




Pemandangan Pegunungan Alpen dari dalam pesawat, Senin, 29 Agustus 2017


Pesawatku mengalami sedikit keterlambatan. Yang harusnya dijadwalkan tiba pukul 07.15, akhirnya baru nyampe sekitar 08.00. Pertama kali menginjakkan kaki di Zurich International Airport, aku reflek mengucap Alhamdulillahirobilalamin ya Allah... bersyukur bisa menginjak belahan bumi lain dengan selamat dan sehat. 

Langsung aku cari kamar mandi, bersihin muka dan badan ala kadarnya biar enggak kucel-kucel amat saat ketemu calon suami. Eeh, ternyata gara-gara kelamaan di toilet aku ketinggalan dong sama rombongan pesawatku. But i tried to stay cool, karena kalau buru-buru itu enggak baik kan, bikin pikiran berantakan, jadi tenang aja. Ga bakal ilang juga kok kopernya dicuri orang.

Keluar dari toilet, aku tanya ke satpam perempuan yang jaga di sana. Langsung deh ya ala ala ngomong pakai bahasa Inggris gitu. “Excuse me, where I can get my all bags?” . Satpam itu minta aku buat naik kereta bawah tanah, karena itu yang mengantarkan aku buat ambil koper bagasi sekaligus cek di imigrasi. Huwaaaa ternyata masih banyak dong yang antri di sana. Imigrasi dibagi menjadi dua antrean, yakni imigrasi untuk orang yang tinggal di kawasan Uni Eropa (EU), dan untuk umum seluruh negara, yang antreannya puanjang banget. Pas tiba giliranku, aku ditanya sekitar tiga menit. 

Apa tujuanku ke sini, berapa lama akan tinggal di sini, nanti tinggal sama siapa selama di sini, kapan menikah kalau memang tujuannya untuk persiapan nikah?. I was panic before, but i tried to handle it. Aku tatap petugas imigrasi perempuan itu tanpa ragu, ceileeeh... aku jawab aja, “I come here to visit my future husband, Jerome Frick. We would marry in this October, I will live with Mr Bernhard Frick, my future father in law. I would stay here maybe for 6 months first, then I will back to Indonesia with my husband, and stay here for long,” ucapku kurang lebih saat itu. 

Petugas itu lantas menscan pasporku, dia juga bilang congratulations karena aku akan menikah. Setelah diperbolehkan masuk, aku berjalan menuju tempat pengambilan bagasi. Alhamdulillah, antrean untuk ambil bagasi udah enggak ada, dan aku melihat bawaanku bersama 1-3 koper lain yang masih muter-muter. Kuambil bawaanku yang berat totalnya sekitar 26 kilo itu untuk aku bawa ke troli, menuju tempat kedatangan. Aaaaa hati rasanya enggak karuan bayangin muka Jerome and paps, karena udah 5 bulan enggak ketemu.

Keluar dari tempat kedatangan, aku celingukan, Jerome di mana, pikirku. Tiba-tiba, satu orang cowok ganteng, pake blazer n celana warna abu lari ke arahku dan langsung senyum. He hugs me! Ya ampun, itu ternyata Jerome! Huwaaaa ganteng bangetttttt laki gueee,, hahaha sampe agak enggak ngenalin karena selama long distance, kami hanya ngobrol via video call dan telepon. Dan saat ketemu, mukanya enggak lagi begitu chubby, huhuuu i lost my favorite donut cheeks. He looks so happy that time so i am. Paps juga nyamperin aku, he hugs me too, i was really happy! Happy banget. Penantian panjang dan kesabaran akhirnya berbuah manis. Kami pun langsung membawa seluruh barang ke mobilnya paps, menikmati perjalanan menuju rumah mereka, di Riethaldenstrasse 10a, 8266 Steckborn.


Me and my future husband Jerome Frick


Me, my future paps in law Bernhard Frick and Jerome Frick

tempat tinggal Jerome and Paps, Steckborn-Swiss



I am gonna tell you my next story ya... to be continued. Let me take a breath awhile :)

Seputar Kawin Campur - Mohon Untuk Tidak Mengirim Email

  Pesan ini benar-benar ingin sekali saya sampaikan kepada para pembaca blog, terutama untuk yang sedang dalam proses mengurus dokumen perni...